Soal Dugaan Suap Piala Dunia 2022, FIFA Semakin Terpojok

ZURICH – Indikasi korupsi dalam pemilihan Qatar sebagai tuan rumah untuk Piala Dunia 2022 oleh FIFA terus mengundang reaksi. Kini FIFA berada di bawah tekanan karena keputusan kontroversialnya. Satu dari sponsor utamanya, Sony, meminta badan regulasi sepak bola itu untuk melakukan “penyelidikan yang pantas” terhadap klaim adanya praktik suap dalam prosesnya. Wakil Presiden FIFA Jim Boyce mengatakan dia akan mendukung adanya pemilihan ulang jika dugaan korupsi tersebut bisa dibuktikan. Panitia Piala Dunia Qatar dengan konsisten membantah tuduhan dan Bin Hammam enggan berkomentar. Anggota komite eksekutif FIFA di Inggris Jim Boyce mengatakan kepada bahwa pekan lalu dalah pekan yang sulit dan badan sepak bola dunia ini sedang mengalami perubahan. “Sejak saya bergabung dengan Komite Eksekutif FIFA pada tahun 2011 setengah dari panitia sudah keluar,” katanya. “Bin Hammam, yang banyak dibicarakan baru-baru ini, telah dilarang berkarir di organisasi sepak bola seumur hidup oleh FIFA, dan banyak dari orang-orang lain yang disebut sekarang sudah tidak lagi di FIFA. “Ada banyak orang yang sangat baik di FIFA dan orang-orang yang hanya tertarik dalam memajukan permainan sepak bola.” Namun Salah satu situs TV di Iran mengklaim bahwa agen mata-mata Amerika, NSA dan Inggris, GCHQ mempunyai bukti-bukti laporan investigasi berupa jutaan dokumen rahasia – termasuk surel, surat, dan bukti transfer – yang mengindikasikan bukti bahwa pejabat sepak bola Qatar yang telah dipecat, Mohamed Bin Hammam, membayar USD 5 juta (Rp58 miliar) kepada FIFA sebagai imbalan karena terpilih sebagai tuan rumah piala dunia. Seperti diketahui pemberitaan dugaan kasus suap yang di lakukan mantan anggota komite eksekutif FIFA Mohamed Bin Hammam pertama kali diungkap oleh Surat Kabar The Sunday Times. Dalam pemberitaan tersebut Bin Hammam disebut-sebut melakukan suap kepada sejumlah pejabat sepakbola untuk mendukung Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Kini kasus dugaan suap tersebut sedang diselidiki oleh Kepala penyidik etika FIFA ,Michael Garcia yang tengah mengumpulkan bukti-bukti terkait. Garcia diharapkan dapat menyelesaikan penyelidikannya pada 9 mendatang dan kemudian melaporkan kepada komite etika sekitar enam minggu kemudian. ( wbs ) dibaca 1.749x

Sumber: Sindonews