La Liga, Kompetisi Terhebat

, Jakarta – Untuk pertama kali setelah enam tahun, menggeser Liga Inggris dari posisi pertama peringkat UEFA. Berpeluang menyandingkan trofi Liga Champions dan Liga Europa. Kian dekat dengan trofi yang pernah mereka raih pada dua musim lalu, gelar juara Liga Europa, Atletico Madrid kian bergairah. “Kami berada di jajaran tim-tim terbaik Eropa,” kata pelatih Diego Simone setelah menyelesaikan laga kedua perempat final, Kamis lalu. “Rasanya menyenangkan.” Menang 2-1 di kandang sendiri dalam laga pertama dan lantas menang dengan skor yang sama di kandang klub Jerman, Hannover 96, Los Rojiblancos berhak atas tiket ke semifinal. Dan lawan yang harus mereka hadapi adalah Valencia, sesama klub Spanyol yang menyingkirkan tim Belanda, AZ Alkmaar, dengan agregat 5-1. Ditambah Athletic Bilbao–yang akan bertemu dengan klub Portugal, Sporting Lisbon–total Spanyol menempatkan tiga wakilnya pada semifinal Liga Europa. Yang luar biasa, dari empat semifinalis Liga Champions, kompetisi yang berkelas satu tingkat di atas Liga Europa, dua di antaranya juga berasal dari Spanyol: Real Madrid dan Barcelona. Artinya, lebih dari separuh semifinalis kejuaraan antarklub Eropa musim ini berada di kaki klub-klub Spanyol. Itu masih dengan catatan, satu tempat di final Liga Europa pasti menjadi milik Spanyol. Dan bukan tidak mungkin Bilbao juga melangkah ke final. Akan menjadi sangat luar biasa bila Real Madrid berjumpa dengan Barcelona pada final Liga Champions. Tentu saja itu bila Madrid dan Barcelona masing-masing bisa melewati Bayern Muenchen dan Chelsea pada semifinal. Bila itu terjadi, kian tampaklah superioritas Spanyol di dunia sepak bola. Sebelumnya, tim nasional Spanyol telah menancapkan kedigdayaannya dengan menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Setelah itu, di tingkat klub, Barcelona merebut dua gelar Liga Champions dari tiga musim terakhir. Tim nasional dan liga domestik sebuah negara kadang tak berhubungan erat. Tapi Presiden FIFA Sepp Blatter setahun lalu secara khusus memuji La Liga, kompetisi yang sudah berusia 84 tahun, sebagai kejuaraan domestik terbaik di dunia. “La Liga pasti liga terkuat di dunia,” kata Blatter saat itu. “Bila Anda amati pemain starter kesebelasan nasional Spanyol, mereka semua bermain di Liga Spanyol. Dan liga ini juga memiliki pemain lokal terbanyak. Liga Inggris mungkin kompetisi paling bagus dari sisi bisnis, tapi Liga Spanyol yang terbaik.” Di liga ini terdapat pemain termahal dunia, Cristiano Ronaldo, yang memiliki harga 90 juta euro (sekitar Rp 1,1 triliun) saat dibeli Real Madrid dari Manchester United pada 2009. Liga ini juga memiliki Lionel Messi, pemain yang tak henti-hentinya membikin rekor. Catatan terbarunya adalah dia menjadi pemain pertama yang mencetak lima gol dalam satu pertandingan Liga Champions, yaitu saat Barcelona mengalahkan Bayer Leverkusen 7-1 pada babak 16 besar. Tingginya koefisien UEFA dihitung dari jumlah kemenangan tim-tim peserta Liga Champions dan Liga Europa dari satu negara dalam lima musim terakhir. Sampai akhir musim lalu, Liga Primer Inggris masih berada di peringkat pertama dan La Liga Spanyol berada di urutan kedua. Tapi, dengan hasil Liga Europa dan Liga Champions musim ini, bisa dipastikan posisi kedua liga tersebut bakal bertukar tempat pada akhir musim ini. Kekuatan klub-klub Spanyol di Eropa juga lebih merata daripada di Inggris. Sejak format Liga Champions (sebagai pengganti Piala Champions) digulirkan pada 1992, terdapat 12 klub Spanyol berbeda yang ikut serta. Bandingkan, Liga Inggris hanya diwakili sembilan klub. Artinya, Liga Spanyol lebih dinamis dalam pergantian posisi papan atas klasemen setiap akhir musim. Dari sisi “pertukaran” pemain, justru berkebalikan. Sejak Presiden Madrid Florentino Perez memboyong Cristiano Ronaldo dan Xabi Alonso (dari Liverpool) pada 2009, lalu lintas transfer di antara kedua liga pada jajaran pemain berkelas atas relatif satu arah. Cesc Fabregas (Arsenal) memang pulang ke Liga Spanyol untuk bergabung dengan klub masa kecilnya, Barcelona. Tapi kuantitas pemain yang pindah dari Spanyol ke Inggris lebih banyak, misalnya Davis Silva, Kun Aguero, Juan Mata, dan David de Gea. Itu tak mengherankan. Pasalnya, klub-klub Spanyol membutuhkan uang dan tim-tim Inggris membutuhkan pemain berkualitas. Klub-klub Inggris masih jorjoran membelanjakan uangnya saat tim-tim Spanyol mulai berhemat. Sepanjang 2011/2012, klub-klub Inggris mengeluarkan uang sampai 192 juta euro (sekitar Rp 2,3 triliun). Bandingkan, klub-klub Spanyol hanya 52 juta euro, itu pun sebagian besar atas nama Malaga, yang ingin meniru kesuksesan Chelsea dengan belanja besar-besaran. Memang, tak bisa dimungkiri bahwa persaingan di papan atas Liga Spanyol praktis hanya terjadi di antara dua klub besar, Barcelona dan Real Madrid. Dari 28 musim terakhir, 24 kali trofi cuma berpindah di antara kedua tim. Namun keberadaan klub dominan semacam ini juga terjadi hampir di semua kompetisi domestik lain: Ajax, PSV, dan Feyenoord di Belanda; MU, Chelsea, dan Arsenal di Inggris; serta AC Milan, Inter Milan, dan Juventus di Italia. Liga Spanyol menguntungkan klub besar dari segi pembagian kue ekonomi. Dengan sistem negosiasi sendiri-sendiri, kontrak hak siar televisi cenderung dikuasai klub-klub dominan. Madrid dan Barcelona bahkan menguasai sampai 60 persen dari total nilai kontrak siaran televisi. “Barcelona dan Madrid diuntungkan sistem sehingga bisa membangun timnya menjadi sangat superior, melawan mereka adalah sangat tidak mungkin,” kata penyerang Atletico Madrid, Falcao. “Tapi ada banyak hal lain di Liga Spanyol selain menjadi juara, misalnya menjadi juara di Eropa.” Bilbao, tim yang notabene saat ini cuma berada di peringkat ke-11 La Liga, sukses menyingkirkan MU, klub pemuncak klasemen Liga Inggris, pada babak 16 besar Liga Europa. Bilbao kini mengincar tangga teratas di Liga Europa bersama Valencia dan Atletico. BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA

Sumber: Tempo.co