Dinamika Penentuan Agus-Sylviana di Poros Cikeas

Jakarta – Nama Agus Harimurti Yudhoyono hampir tidak pernah terdengar sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta, bahkan hingga pasangan Ahok-Djarot diumumkan oleh PDIP. Begitupun calon wakil gubernurnya, Sylviana Murni. Sempat terdengar, nama Sylviana, jauh kalah gaung dibanding Sekda DKI Jakarta Saefullah. Baik Agus dan Sylviana bahkan menyingkirkan seorang Yusril Ihza Mahendra yang elektabilitasnya cukup baik. Menurut Wasekjen DPP PPP, Ahmad Baidowi, semuanya berawal mula dari kerasnya Gerindra-PKS yang mendeklarasikan pasangan calonnya sendiri, yang saat itu masih Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera. Proses itu dilakukan tanpa sepengetahuan parpol lain yang tergabung di Koalisi Kekeluargaan. “Dari awal bersama, kok di tengah jalan mendeklarasikan diri tanpa sepengetahuan yang lain? Tak cocok fatsun seperti itu bagi kami yang lain. Kamipun tak sepakat dengan calon mereka saat itu,” kata Baidowi, Sabtu (24/9). Maka empat parpol lain yang disebut Poros Cikeas berkumpul untuk menyamakan persepsi. Sempat diusahakan agar semuanya bisa kembali bergabung, dengan dipanggilnya Sandiaga Uno ke Cikeas, kediaman Susilo Bambang Yudhoyono. Namun lobi itu gagal. Setelah itu, kata Baidowi, empat parpol lalu mengajukan alternatif calon yang bisa dipertimbangkan. Misalnya PPP mengeluarkan nama Yusuf Mansyur dan Sylviana Murni. PKB mengeluarkan nama Saefullah Yusuf dan Sekda DKI Saefullah. PAN mengeluarkan nama Yoyok Sudibyo. Sementara Partai Demokrat menyorongkan nama Agus Harimurti. Setelah itu, para anggota Koalisi lalu melakukan pemetaan dan membuat kriteria calon yang hendak diajukan. Akhirnya disepakati bahwa pasangan calonnya haruslah figur alternatif, fresh, antitesa dari Petahana. Dari semua pertimbangan dan simulasi yang ada, keluarlah nama Agus Yudhyono-Sylviana. Wabendum DPP PKB, Bambang Soesanto, mengatakan bahwa pihaknya awalnya bersikeras agar Koalisi lebih memilih Saefullah agar dijadikan salah satu dari nama pasangan calon yang hendak diusung. Sebab nama Saefullah memang sangat kuat diusulkan dari pengurus dan konstituen PKB. “Kita ngotot. Tapi kemudian ada pertimbangan rasional, dan kesepakatan lebih besar dengan yang lain akhirnya mengusulkan Sylviana. Itu berdasar perundingan,” kata Bambang. “Standing position akhir kita masih usulkan Saefullah. Kita sendirian saja mengusung. PPP, PAN, Demokrat, setuju Sylvia. Ya kalau seandainya ada voting, pasti kita kalah. Tak ada voting karena akhirnya semua disepakati dengan musyawarah.” Baidowi pun mengamini pernyataan Bambang tersebut. Kata dia, PKB akhirnya bisa menerima keadaan. Diduga hal itu karena semua saling menyadari kekuatannya. Sebagai latar berlakang, di DPRD DKI Jakarta, Partai Demokrat memiliki 10 kursi, demikian juga PPP. PKB hanya memiliki enam kursi, sementara PAN hanya dua kursi. Lanjut cerita, Poros Cikeas sempat mengkomunikasikan nama Agus Harimurti-Sylviana ke Gerindra-PKS agar bisa bersama-sama diusung. Namun kedua parpol yang disebut terakhir tetap tak bergeming dengan pilihan calonnya. Yang jelas, menurut Baidowi, keputusan Poros Cikeas akhirnya mengubah konstelasi di Gerindra-PKS. Sebab PKS kemudian bersedia mengubah nama calon yang diusungnya, yakni tak lagi Mardani. “Calon PKS berubah setelah empat parpol bikin keputusan. Baru beberapa jam sebelum deklarasi calon mereka, baru ada perubahan,” kata Baidowi. “Ini kita bukan ngotot bagi-bagi jabatan. Kita hanya duetkan agar menang. Sylviana sudah kami kalkulasi, dia kuat di posisi calon wagub. Apalagi kalau dia dipasangkan dengan figur baru dan fresh. Kalau cagub, Sylviana kurang menggigit. Itulah contoh kenapa kami minta yang lain berubah,” urainya. Markus Junianto Sihaloho/FER BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu